Langsung ke konten utama

Gambaran Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Di RSUD Daya Makassar Tahun 2009 (A-0039)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anemia defenisi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkit lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10 % dan 20 % (Prawirohardjo, 1999, hal 98)

Diseluruh dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar antara 10 % dan 20 % karena defenisi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat dipahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negara-negara yang sedang maju. Badan kesehatan dunia (World Health Organization/ WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-37 %, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan (anonim,2010 di tulis oleh Eka Rahayu puji )

Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 40,1 % ( SKRT ). Provinsi dengan prevalensi anemia terbesar adalah Sumatera Barat ( 82,6 % ) dan yang terendah adalah Sulawesi Tengah. Lautan J dkk (2001) melaporkan dari 31 wanita hamil pada trimester II didapati 23 (74 %) menderita anemia, dan 13 ( 42 %) menderita anemia, dan 13 (42 %) menderita kekurangan zat besi. (anonim,2007 Ditulis oleh Ahmad Rofiq).

Banyak faktor yang berhubugan dengan kejadian anemia anemia antara lain umur ibu paritas,jarak kelahiran ,pendidikan ,pekerjaan ,dan sosial ekonomi. Namun karena keterbatasan penulis maka hanya melakukan penelitian tentang gambaran kejadian anemia pada ibu hamil berdasarkan umur ibu ,paritas ibu, dan pendidikan ibu

Telah banyak yang dilakukan agar kejadian anemia pada ibu hamil dapat dikurangi jumlahnya antara lain dengan pemberian tablet Fe mulai dari tahun 1870, program perbaikan gizi keluarga, serta peningkatan pengetahuan melalui upaya promosi kesehatan dan peningkatan pelayanan kesehatan, akan tetapi angka prevalensi anemia pada ibu hamil masih tinggi.

Dari hasil pemeriksaan 216 ibu hamil terdapat 59 ibu hamil yang mengatakan tidak rutin meminum tablet zat besi, anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas. Berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia seperti abortus, partus premature, partus lama, akibat insersi uteri, syok, infeksi baik intra partum maupun post partum (Manuaba, 1998, hal 120).

Jika ibu kekurangan zat besi selama hamil, maka persediaan zat besi selama hamil ,dan persediaan zat besi pada bayi saat di lahirkan pun tidak akan memadai , padahal zat besi sangat di butuhkan untuk perkembangan otak bayi di awal kelahirannya.Kekurangan zat besi sejak sebelum hamil bila tidak di atasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. (Prawirohardjo,1999, hal 101 )

Kekurangan zat bezi juga mengakitban kekurangan hemoglobin (HB) di mana zat besi sebagai pengikat oksigen yang sangat di butuhkan untuk metabolisme sel ,hal ini dapat menyebabkan anak lahir dengan berat badan lahir rendah ,keguguran dan juga menyebabkan anemia pada bayinya. (Manuaba,1999,hal 115 )

Untuk memenuhi kebutuhan akan zat besi selama hamil ,ibu harus mengkonsumsi zat besi sekitar 40-45 mg sehari.kebutuhan ini dapat terpernuhi dari makanan yang kaya akan zat besi , seperti daging berwarna merah,hati,kuning telur ,sayuran berdaun hijau ,kacang-kacangan,tempe ,roti dan sereal.tetapi jika dokter menemukan ibu hamil yang menemukan gejala anemia biasanya akan memberikan suplemen zat besi juga di berikan pada ibu hamil yang menganut pola makan vegetarian . untuk meningkatkan penyerapan zat besi ,ibu hamil vegetarian hanya cukup makan buah-buahan yang banyak mengandung banyak vitamin c ( Aminuddin R,2007,hal 65).

Kebutuhan zat besi ibu menurut manuaba (2001) selama kehamilan adalah 800 mg besi di antaranya 300 mg untuk janin, placenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu ,untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari.

Berdasarkan data yang diperoleh dari dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009, prevalensi anemia pada ibu hamil adalah anemia ringan sebanyak 40,5 %, anemia sedang 43,67 % dan anemia berat 9,89 %.

Di RSUD Daya Makassar dengan jumlah ibu hamil sebanyak 216 yang berkunjung dan diperiksa ternyata terdapat anemia berat sebanyak 0,006 %, anemia sedang 4,09 %, dan anemia ringan sebanyak 21,8 %.

.Sesuai dengan uraian di atas maka penulis ingin melakukan penelitian tentang “gambaran kejadian anemia pada ibu hamil di RSUD daya Makassar tahun 2009”.

Postingan populer dari blog ini

Distribusi Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Perode Januari – Desember 2008 (A-0082)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tujuan Pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup sehat dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat Kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia ( Paradigma Sehat 2001). Kemampuan pelayanan suatu Negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa angka kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu Negara untuk memberikan pelayanan kesehatan. Indonesia di lingkungan Assosiation Of Earth Asia Nations (ASEAN) merupakan negara dengan angka kematian ibu dan perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberi...

Gambaran Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Salewangang Maros (A-0076)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu hal yang fisiologi walaupun kehamilan adalah proses fisiologi namun apabila tidak di tangani secara akurat dan benar, keadaan fisiologi akan menjadi patologi dan mengancam keselamatan ibu hamil sehingga dapat mengakibatkan tingginya mortalitas dan morbiditas terhadap ibu dan janinnya. (Bobak, 2004). Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun diperkirakan karena sekitar 127.000 wanita (25%) karena sepsis, 65.000 wanita (12%) hypertensi kehamilan, 38.000 wanita (8%) karena persalinan macet dan hampir 62.000 wanita (18%) karena abortus. Sekitar 20% yang meninggal karena penyakit yang diperberat dengan kehamilan seperti anemia, defisiensi zat besi, hepatitis, TBC, atau penyakit jantung. Penyebab kematian maternal adalah perdarahan 40–60%, infeksi 20–30% dan pre-eklampsia–eklampsia 20 -30 %, sisanya sekitar 5...

Gambaran Karakteristik Kehamilan Serotinus Dirumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Makassar Periode Januari – Desember 2008 (A-0081)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir kehamilan aterm ialah kehamilan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal. Apabila kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap, maka itu dinamakan kehamilan lewat waktu atau post term. Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5 - 14%. Kekhawatiran dalam kehamilan lewat waktu dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm (Winkjosastro.H.2006;317-3188). Menurut defenisi World Health Organization (WHO) “kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan”. Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam golongan yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi–komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Angka kematian m...