Langsung ke konten utama

Distribusi Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Perode Januari – Desember 2008 (A-0082)

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tujuan Pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup sehat dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat Kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia ( Paradigma Sehat 2001).
Kemampuan pelayanan suatu Negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa angka kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu Negara untuk memberikan pelayanan kesehatan. Indonesia di lingkungan Assosiation Of Earth Asia Nations (ASEAN) merupakan negara dengan angka kematian ibu dan perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu. ( Manuaba,2001)
Data WHO ( Word Healt Organisation ) menunjukkan dari 20 juta kelahiran bayi di seluruh dunia sebesar 15,5% adalah bayi dengan BBLR, adapun angka kejadian BBLR di negara berkembang sebesar 16,5%, sedangkan di negara maju kejadianya sebesar 7% ( Kompas,2005)
WHO ( Word Healt Organisation ) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan yang dikenal dengan fenomena 2/3. Fenomena ini terdiri dari 2/3 kematian bayi ( berusia 0-1 tahun ) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal),2/3 kemudian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini ),dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama.Tingginya Angka kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor medis yakni Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 2500 gram, asphyxia (kesulitan bernafas) yang antara lain disebabkan lilitan tali pusat, infeksi dan hipotermi. (glorianet.org/berita diakses 10 Desember 2008)
Menurut Harni Koesno (Ketua Umum IBI,1999),Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 307 dari 100 ribu kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 35 dari 1000 kelahiran hidup. Data IBI menyebutkan penyebab angka kematian ibu (AKI) di antaranya, perdarahan sebanyak 30% dari total kasus kematian, eklampsia 25%. Infeksi 12%, abortus 5%, partus lama 5%, emboli obstetri 3% komplikasi masa nifas 8% dan penyebab lain lain 12% (mediaindo.co,diakses 6 April 2007 )
Di Indonesia setiap tahun ada 4.608.000 bayi lahir hidup. Dari jumlah itu sebanyak 100.454 meninggal sebelum berusia 1 bulan, itu berarti 275 neontal meninggal setiap hari atau sekitar 184 neonatal dini meninggal. Angka kematian bayi yang tinggi baik kematian pada neonatal dini maupun kematian pada bayi berumur kurang dari setahun 35 % disebabkan karena Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang mana hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor ibu misalnya: umur ibu terlalu muda, jumlah anak, jarak kelahiran anak, umur kehamilan saat melahirkan faktor gizi dll .
Secara nasional berdasarkan analisis lanjut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 angka BBLR mengalami penurunan dari 7,5% (SDKI,1991) menjadi 7,1% (SDKI,1994), sedangkan untuk Sulawesi Selatan angka BBLR sekitar 10,5% .
Hasil Surveilans Gizi oleh Direktorat Gizi Masyarakat tahun 2002 bahwa di Indonesia prevalensi BBLR pada periode 1990 hingga tahun 2000 ini masih berkisar antara 7 - 14%.Yang menyatakan bahwa harapan Pemerintah dalam pembangunan bidang kesehatan menerangkan bahwa kejadian BBLR menjadi 7% pada tahun 2000.
Namun menurut profil dinas kesehatan di Sulawesi Selatan berdasarkan hasil pencatatan seksi bina kesehatan anak. Angka kematian bayi di Sulawesi Selatan tahun 2005 mencapai sekitar 529 kematian bayi, dengan penyebab BBLR 134 (25,33%), tetanus neonatorum 9 (1,70%) dan penyebab lain 214 (40,45%). Angka kelahiran BBLR tahun 2006 yaitu 1.870 bayi dan 116.050 kelahiran hidup.dan tahun 2007 angka kejadian bblr yaitu 1704 bayi dari 112.429 kelahiran hidup (2,63%) sedangkan di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Kejadian BBLR pada Tahun 2007 terdapat 44 orang dan tahun 2008 terdapat 57 orang (laporan RSUD Pangkep,2008)
Bayi dengan BBLR menunjukkan kecendrungan untuk lebih mudah menderita berbagai penyakit infeksi dan hal ini merupakan penyebab tingginya tingkat kematian pada kelompok ini. Karena berat badan lahir yang rendah itu erat pengaruhnya terhadap keadan gizi pada usia selanjutnya, angka kematian bayi meningkat dengan meningkatnya kejadian BBLR, sehingga bila angka BBLR kecil maka dapat dikatakan bahwa AKB akan rendah pula. Ukuran badan bayi ditentukan oleh beberapa faktor yang erat hubungannya dengan gizi ibu yang kurang baik selama masa muda, selama masa hamil dan adanya penyakit terutama penyakit infeksi yang diderita ibu selama hamil sehingga perkembangan janin tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Penurunan angka kejadian BBLR dapat dicapai dengan pengawasan antenatal yang baik dengan menemukan faktor – faktor yang mempengaruhi janin dan neonatus sejak dini
Hal inilah sehingga penulis termotivasi untuk memaparkan lewat karya tulis ilmiah dengan judul ”distribusi tentang kejadian berat badan lahir rendah di Rumah sakit Umum Daerah pangkep periode Januari – Desember 2008 ”

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Salewangang Maros (A-0076)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu hal yang fisiologi walaupun kehamilan adalah proses fisiologi namun apabila tidak di tangani secara akurat dan benar, keadaan fisiologi akan menjadi patologi dan mengancam keselamatan ibu hamil sehingga dapat mengakibatkan tingginya mortalitas dan morbiditas terhadap ibu dan janinnya. (Bobak, 2004). Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun diperkirakan karena sekitar 127.000 wanita (25%) karena sepsis, 65.000 wanita (12%) hypertensi kehamilan, 38.000 wanita (8%) karena persalinan macet dan hampir 62.000 wanita (18%) karena abortus. Sekitar 20% yang meninggal karena penyakit yang diperberat dengan kehamilan seperti anemia, defisiensi zat besi, hepatitis, TBC, atau penyakit jantung. Penyebab kematian maternal adalah perdarahan 40–60%, infeksi 20–30% dan pre-eklampsia–eklampsia 20 -30 %, sisanya sekitar 5...

Gambaran Karakteristik Kehamilan Serotinus Dirumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Makassar Periode Januari – Desember 2008 (A-0081)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir kehamilan aterm ialah kehamilan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal. Apabila kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap, maka itu dinamakan kehamilan lewat waktu atau post term. Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5 - 14%. Kekhawatiran dalam kehamilan lewat waktu dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm (Winkjosastro.H.2006;317-3188). Menurut defenisi World Health Organization (WHO) “kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan”. Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam golongan yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi–komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Angka kematian m...