Distribusi Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Perode Januari – Desember 2008 (A-0082)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tujuan Pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup sehat dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat Kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia ( Paradigma Sehat 2001).
Kemampuan pelayanan suatu Negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa angka kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu Negara untuk memberikan pelayanan kesehatan. Indonesia di lingkungan Assosiation Of Earth Asia Nations (ASEAN) merupakan negara dengan angka kematian ibu dan perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu. ( Manuaba,2001)
Data WHO ( Word Healt Organisation ) menunjukkan dari 20 juta kelahiran bayi di seluruh dunia sebesar 15,5% adalah bayi dengan BBLR, adapun angka kejadian BBLR di negara berkembang sebesar 16,5%, sedangkan di negara maju kejadianya sebesar 7% ( Kompas,2005)
WHO ( Word Healt Organisation ) memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan yang dikenal dengan fenomena 2/3. Fenomena ini terdiri dari 2/3 kematian bayi ( berusia 0-1 tahun ) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal),2/3 kemudian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini ),dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama.Tingginya Angka kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor medis yakni Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 2500 gram, asphyxia (kesulitan bernafas) yang antara lain disebabkan lilitan tali pusat, infeksi dan hipotermi. (glorianet.org/berita diakses 10 Desember 2008)
Menurut Harni Koesno (Ketua Umum IBI,1999),Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 307 dari 100 ribu kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 35 dari 1000 kelahiran hidup. Data IBI menyebutkan penyebab angka kematian ibu (AKI) di antaranya, perdarahan sebanyak 30% dari total kasus kematian, eklampsia 25%. Infeksi 12%, abortus 5%, partus lama 5%, emboli obstetri 3% komplikasi masa nifas 8% dan penyebab lain lain 12% (mediaindo.co,diakses 6 April 2007 )
Di Indonesia setiap tahun ada 4.608.000 bayi lahir hidup. Dari jumlah itu sebanyak 100.454 meninggal sebelum berusia 1 bulan, itu berarti 275 neontal meninggal setiap hari atau sekitar 184 neonatal dini meninggal. Angka kematian bayi yang tinggi baik kematian pada neonatal dini maupun kematian pada bayi berumur kurang dari setahun 35 % disebabkan karena Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang mana hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor ibu misalnya: umur ibu terlalu muda, jumlah anak, jarak kelahiran anak, umur kehamilan saat melahirkan faktor gizi dll .
Secara nasional berdasarkan analisis lanjut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 angka BBLR mengalami penurunan dari 7,5% (SDKI,1991) menjadi 7,1% (SDKI,1994), sedangkan untuk Sulawesi Selatan angka BBLR sekitar 10,5% .
Hasil Surveilans Gizi oleh Direktorat Gizi Masyarakat tahun 2002 bahwa di Indonesia prevalensi BBLR pada periode 1990 hingga tahun 2000 ini masih berkisar antara 7 - 14%.Yang menyatakan bahwa harapan Pemerintah dalam pembangunan bidang kesehatan menerangkan bahwa kejadian BBLR menjadi 7% pada tahun 2000.
Namun menurut profil dinas kesehatan di Sulawesi Selatan berdasarkan hasil pencatatan seksi bina kesehatan anak. Angka kematian bayi di Sulawesi Selatan tahun 2005 mencapai sekitar 529 kematian bayi, dengan penyebab BBLR 134 (25,33%), tetanus neonatorum 9 (1,70%) dan penyebab lain 214 (40,45%). Angka kelahiran BBLR tahun 2006 yaitu 1.870 bayi dan 116.050 kelahiran hidup.dan tahun 2007 angka kejadian bblr yaitu 1704 bayi dari 112.429 kelahiran hidup (2,63%) sedangkan di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Kejadian BBLR pada Tahun 2007 terdapat 44 orang dan tahun 2008 terdapat 57 orang (laporan RSUD Pangkep,2008)
Bayi dengan BBLR menunjukkan kecendrungan untuk lebih mudah menderita berbagai penyakit infeksi dan hal ini merupakan penyebab tingginya tingkat kematian pada kelompok ini. Karena berat badan lahir yang rendah itu erat pengaruhnya terhadap keadan gizi pada usia selanjutnya, angka kematian bayi meningkat dengan meningkatnya kejadian BBLR, sehingga bila angka BBLR kecil maka dapat dikatakan bahwa AKB akan rendah pula. Ukuran badan bayi ditentukan oleh beberapa faktor yang erat hubungannya dengan gizi ibu yang kurang baik selama masa muda, selama masa hamil dan adanya penyakit terutama penyakit infeksi yang diderita ibu selama hamil sehingga perkembangan janin tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Penurunan angka kejadian BBLR dapat dicapai dengan pengawasan antenatal yang baik dengan menemukan faktor – faktor yang mempengaruhi janin dan neonatus sejak dini
Hal inilah sehingga penulis termotivasi untuk memaparkan lewat karya tulis ilmiah dengan judul ”distribusi tentang kejadian berat badan lahir rendah di Rumah sakit Umum Daerah pangkep periode Januari – Desember 2008 ”
SelengkapnyaDistribusi Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Perode Januari – Desember 2008 (A-0082)

Gambaran Karakteristik Kehamilan Serotinus Dirumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Makassar Periode Januari – Desember 2008 (A-0081)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir kehamilan aterm ialah kehamilan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal. Apabila kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap, maka itu dinamakan kehamilan lewat waktu atau post term. Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5 - 14%. Kekhawatiran dalam kehamilan lewat waktu dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm (Winkjosastro.H.2006;317-3188).
Menurut defenisi World Health Organization (WHO) “kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan”. Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam golongan yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi–komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Angka kematian maternal (maternal moltality rate) ialah jumlah kematian maternal di perhitungkan terhadap 1000 atau 10.000 kelahiran hidup, kini di beberapa negara malahan terhadap 100.000 kelahiran hidup. Kemajuan yang telah di capai dalam kira-kira setengah abad terakhir telah di umumkan oleh banyak penulis. Di Inggris angka kematian menurun dari 44,2 per 10.000 kelahiran dalam tahun 1928 menjadi 2,5 per 10.000 dalam tahun 1970 (Chamberlain dan Jeffcoat; 1966. Stall Worthy.1971). Perkembangan ini terlihat pula pada semua negara-negara maju; umumnya angka kematian maternal kini di negara-negara itu berkisar antara 1,5 dan 3,0 per 10.000 kelahiran hidup (Winksosastro H, 2006. Hal : 07).
Pada saat ini tidak ada angka yang tepat mengenai kematian maternal untuk Indonesia atau untuk suatu wilayah di Indonesia. Hal ini di sebabkan oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran dan kematian di negara kita, menurut tafsiran kasar, angka kematian maternal ialah 6-8 per 1000 kelahiran, angka ini sangat tinggi apabila di bandingkan angka-angka di negara-nagara maju, yang berkisar antara 1,5-3 per 10.000 kelahiran hidup.
Pada tahun 1988 kematian maternal di Indonesia diperkirakan 450 per 100.000 kelahiran hidup (dari simposium nasional kesejahteraan ibu pada tanggal 29 Juni 1988). Angka tersebut yang tertinggi di ASEAN (5-142 per 100.000) dan 50-100 kali lebih tinggi dari angka kematian maternal di negara maju
Angka kematian perinatal yang terdapat dalam kepustakaan Indonesia ialah seperti juga angka-angka kematian maternal, diperoleh dari rumah-rumah sakit yang selain menerima persalinan di booked case, juga menerima banyak kasus darurat, sehingga tidak menggambarkan keadaan sebenarnya dalam masyarakat. Angka tersebut di rumah-rumah sakit berkisar antara 77,3 sampai 137,7 per 1000 (Winkjosastro.H,2006,hal;15-16).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian bayi (AKB) masih berada pada angka 26,9/1000 kelahiran hidup, walaupun telah terjadi penurunan AKB menjadi 1,6/1000 kelahiran hidup (Hidayatullah, diakses tanggal 16 April 2009).
Dari data statistik menunjukkan angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan cukup bulan. Data itu menunjukkan angka kematian dalam kehamilan cukup bulan sekitar 1-2% sedangkan yang dalam kehamilan lewat waktu mencapai 5-7%.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan jumlah kematian ibu pada tahun 2007 sebanyak 131 orang, dengan penyebab kematian ibu yaitu perdarahan 72 orang (54%), toxemira (13%) dan infeksi 14 orang (10%) dan melihat tanda kematian ibu, sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan / Antenatal Care (ANC) yang teratur (Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan).
Berdasarkan data dari medical record Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Siti Fatimah Makassar menunjukkan bahwa jumlah ibu yang melahirkan dari periode Januari-Desember 2008 sebanyak 2.597 orang, dengan kasus serotinus sebanyak 51 kelahiran (1,9%). (Rekam medik RSIA Siti Fatimah Makassar 2008).
Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya AKB, penelitian yang di lakukan untuk Princess Badia Dinorthen Jordan pada tahun 1999 menyebutkan antenatal care cukup berpengaruh terhadap kematian tersebut. Umur ibu saat hamil juga merupakan faktor resiko dari kejadian kematian perinatal. Presentase kematian menurut umur ibu membentuk kurva U, berarti kematian perinatal tinggi pada usia di bawah 20 tahun, kemudian cenderung turun jika ibu hamil pada usia 20-35 tahun dan kematian perinatal naik kembali pada ibu hamil 35 tahun ke atas (Lubis Agustin dkk, 1998).
Untuk mencegah kehamilan lewat waktu yang dapat berdampak pada tingginya AKB, pemeriksaan kahamilan perlu dilakukan secara rutin semasa hamil dengan frekuensi kunjungan minimal 4 kali. Kehamilan lewat waktu adalah salah satu penyabab kematian bayi akibat komplikasi-komplikasi yang di timbulkan. Hal ini merupakan masalah penting yang menyangkut kualitas hidup suatu generasi, oleh karenanya di perlukan suatu upaya pencegahan masalah, maka di anggap penting untuk di lakukannya suatu penelitian untuk penulis, mengenai gambaran karakteristik pada ibu yang mengalami kejadian kehamilan serotinus di RSIA Siti Fatimah Makassar periode Januari-Desember 2008.
SelengkapnyaGambaran Karakteristik Kehamilan Serotinus Dirumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Makassar Periode Januari – Desember 2008 (A-0081)

Gambaran Kejadian Preeklamsi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar (A-0080)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Preeklamsi atau toxemia, adalah suatu gangguan yang muncul pada masa kehamilan, umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala-gejala yang umum adalah tingginya tekanan darah, pembengkakan yang tak kunjung sembuh, dan tingginya jumlah protein di urine. Preeklamsi sering terjadi pada kehamilan pertama dan pada wanita yang memiliki sejarah preeklamsi dikeluarganya. Risiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang memiliki banyak anak, ibu hamil usia remaja, dan wanita hamil diatas usia 40 tahun. Selain itu, wanita dengan tekanan darah tinggi atau memiliki gangguan ginjal sebelum hamil juga berisiko tinggi mengalami preeklamsi. (http://www.anlikha.multiply.com/jurnelitern/2k. Diakses tanggal 20 April 2009).
Peningkatan angka kehamilan dan kematian ibu di Indonesia masih rnerupakan masalah besar, pada umumnya kematian ibu tersebut berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan masa nifas oleh karena itu pelayanan kesehatan harus lebih di tingkatkan agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui usaha bersama antara pemerintah dan berbagai profesi swasta dengan mengikut sertakan partisipasi masyarakat. (Manuaba, 2001)
Berdasarkan penelitian World Health Organisation (WHO) di seluruh Dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun diperkirakan sekitar 127.000 wanita (25%) meninggal karena hemoragia, 76.000 wanita (15%) karena sepsis, 65.000 wanita (12%) karena gangguan hipertensi kehamilan, 38.000 wanita (8%) karena persalinan macet dan hampir 62.000 wanita (18%) karena abortus. Sekitar 20% yang rneninggal karena penyakit yang diperberat dengan kehamilan seperti anemia, difesiensi zat besi, hepatitis, TBC atau penyakit jantung. Penyebab terpenting kematian maternal adalah pendarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan Preeklamsi-eklamsi 20-30%. Sisanya sekitar 5% di sebabkan oleh penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan. (http//:www.kabarindonesia.com/online/. Diakses tanggal 20 April 2009).
Angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia tertinggi di Assosiation of South East Asean Nation (ASEAN) sebesar 307/ 100.000 kelahiran Hidup. (Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 / 2003), artinya lebih dari 18.000 Ibu tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal, oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Dan penyebab utama kematian ibu adalah pendarahan (28%), eklamsi (24%), infeksi (11%), abortus (5%) atau partus macet (5%). (Depkes RI. Dirjen Binkesmas. 2004).
Propinsi dengan kasus kematian ibu melahirkan tertinggi adalah Propinsi Papua yaitu sebesar 730/100.000 kelahiran hidup, di ikuti Nusa Tenggara Barat sebesar 370/100.000 kelahiran hidup, Propinsi Maluku sebesar 340/100.000 kelahiran hidup. Dan Propinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 330/100.000 kelahiran hidup. (Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, 2008).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan pada Tahun 2006 di Sulawesi Selatan sebasar 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Tahun 2007 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup yang penyebabnya adalah perdarahan sebanyak 77 orang (50,33%), infeksi 6 orang (3,92%), preeklamsi 40 orang (26,14%) dan lain-lainnya sebanyak 30 orang (19,61%). (Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, 2008).
Menurut Harni Koesno (ketua umum Ikatan Bidan Indonesia) “Angka kematian ibu di Indonesia mencapai 307 dari 100.000 Kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 35 dari 1000 kelahiran hidup”. Pada tahun 2004 AKI berhasil diturunkan dari 270 per 100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi 262 pada tahun 2005, 255 pada tahun 2006 dan 248 pada tahun 2007. AKB telah berhasil diturunkan dari 30,8 per 1000 KH pada tahun 2004 menjadi 29,4 pada tahun 2005. 28,1 pada tahun 2006 dan 26,9 pada tahun 2007. Data IBI menyebutkan penyebabnya angka kematian ibu (AKI) diantaranya pendarahan sebanyak 30% dari total kasus kematian, eklamsi 25%, infeksi 12% abortus 5%, partus lama 5%, emboli obstetri 3% komplikasi masa nifas 8% dan penyebab lainnya 12%. (http://www.mediaindonesia, diakses tanggal 06 oktober 2008)
Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar, terdapat 4.168 orang ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada periode Januari–Desember 2008, dari jumlah Ibu hamil tersebut terdapat diantaranya 57 orang (1,36%) Ibu hamil yang menderita preeklamsi.
Besarnya kemungkinan pasien preeklamsi akan menimbulkan komplikasi yang dapat berakhir dengan kematian, maka sangat penting untuk melakukan penjaringan sedini mungkin adanya kasus preeklamsi dan penyakit kehamilan lainnya melalui penanganan dan pemeriksaan kehamilan secara teratur serta mencari tanda-tanda adanya preeklamsi untuk mencegah preeklamsi menjadi lebih berat yaitu eklampsia. (Manuaba, 2001)
Melihat jumlah kematian ibu di Indonesia, preeklamsi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian maternal. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti kejadian preeklamsi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar periode Januari-Desember 2008.

T2KX5Z8GXT4V

SelengkapnyaGambaran Kejadian Preeklamsi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar (A-0080)

Gambaran Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di RSU Pangkep Tahun 2008 (A-0079)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena anemia. Penelitian Chi, dkk menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang non anemia. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. (http://www.bppsdmk.depkes.go.id). Diakses 17 Maret 2009
Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi. Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992, bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi.
Menurut World Health Organization (WHO) 4% kematian para ibu di negara yang sedang berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi (Sarwono, 2000).
Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20% (Prawirohardjo,2002). Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75%, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan.
Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 40,1 % (SKRT 2001). Di provinsi dengan prevalensi anemia terbesar adalah Sumatera Barat (82,6 %) dan yang terendah adalah Sulawesi Tengah. Lautan J dkk (2001) melaporkan dari 31 orang wanita hamil pada trimester II didapati 23 (74%) menderita anemia, dan 13 (42%) menderita kekurangan besi. (http://library.usu.ac.id). Diakses 11 Maret 2009.
Dari hasil pemeriksaan 640 ibu hamil terdapat 500 ibu hamil yang mengatakan tidak rutin meminum tablet zat besi, anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas. Berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia seperti abortus, partus prematur, partus lama, akibat insersi uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi baik intra partum maupun post partum. (Manuaba, 2001).
Di Indonesia, kasus anemia umumnya terjadi karena kekurangan zat besi. Seperti pernah dikatakan Prof. dr. Sutaryo dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (2005) persoalan zat besi masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia.
Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang daripada negara yang sudah maju. Tiga puluh enam persen (atau sekitar 1400 juta orang) dari perkiraan populasi 3800 juta orang di negara yang sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi di negara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200 juta orang. (Arisman. 2004)
Jika ibu kekurangan zat besi selama hamil, maka persediaan zat besi pada bayi saat dilahirkan pun tidak akan memadai, padahal zat besi sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak bayi diawal kelahirannya. Kekurangan zat besi sejak sebelum hamil bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. (Winkjosastro H, 2005)
Kekurangan zat besi juga mengakibatkan kekurangan hemoglobin (Hb) dimana zat besi sebagai salah satu unsur pembentukannya. Hemoglobin berfungsi sebagai pengikat oksigen yang sangat dibutuhkan untuk metabolisme sel, hal ini dapat menyebabkan anak lahir dengan berat badan rendah, keguguran dan juga menyebabkan anemia pada bayinya.( Ahmad Rafiq diaskes tanggal 12 april 2009).
Mengingat besarnya dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil dan janin, oleh karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup terhadap masalah ini. Anemia pada kehamilan merupakan masalah yang umum karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia hamil disebut ”Potensial danger of mother and child” (potensial membahayakan ibu dan anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada hari terdepan (Manuaba, 1998).
Anemia erat kaitannya dengan asupan gizi dari makanan kita sehari-hari, karena itu memperbaiki pola makan merupakan jurus paling penting untuk mengatasi anemia. Terapkan pola makan yang sehat, dengan selalu memperhatikan jumlah, jadwal dan jenisnya. Jumlah yang dimaksud adalah sesuai dengan kebutuhan tubuh. (Winkjosastro H, 2005).
Untuk memenuhi kebutuhan akan zat besi selama hamil, ibu harus mengkonsumsi zat besi sekitar 45-40 mg sehari. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dari makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging berwarna merah, hati, kuning telur, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, tempe, roti, dan sereal. Tetapi jika dokter menemukan ibu hamil yang menunjukkan gejala anemia biasanya akan memberikan suplemen zat besi berupa tablet besi, biasanya dikonsumsi satu kali dalam sehari. Suplemen tablet besi juga diberikan pada ibu hamil yang menganut pola makan vegetarian. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi, ibu hamil vegetarian hanya cukup makan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (Ridwan, 2007).
Pengaturan gizi pada kehamilan adalah untuk memaksimalkan kesehatan ibu dan meningkatkan tumbuh kembang bayi yang sehat. Kita tidak dapat menjamin bahwa pengaturan gizi yang optimal akan memberikan hasil akhir yang positif keadaan malnutrisi dapat membawa akibat yang merugikan kesehatan dan tumbuh kembang janin. ( Library Diaskes 12 april 2009).
Berat badan lahir rendah dan penyakit yang terjadi pada usia yang lebih lanjut sangat berkaitan dengan keadaan kurang gizi yang diderita ibu hamil. Di Inggris peningkatan asupan zat besi, zink, protein dan Vitamin B pada ibu hamil selama trimester ketiga terbukti bermanfaat bagi para ibu hamil yang memeriksa diri mereka ke rumah sakit. (Ridwan, 2007).
Diseluruh dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20% karena defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat difahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negara-negara yang sedang maju. (Manuaba, 2001).
Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari (Manuaba, 2001).
Sesuai dengan uraian diatas maka penulis ingin melakukan penelitian tentang “Gambaran Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di RSU Pangkep Tahun 2008”.

SelengkapnyaGambaran Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di RSU Pangkep Tahun 2008 (A-0079)

Gambaran Kejadian Ruptura Perineum yang selalu meningkat setiap tahunnya termasuk di Rumah Sakit Umum Daya Makassar 2008 (A-0078)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ruptura perineum merupakan suatu keadaan dimana terputusnya kontinuitas jaringan yang terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang terjadinya infeksi dan perdarahan sehingga mengakibatkan tingginya morbilitas dan mortalitas ibu. (Wiknjosastro H, 1999).
Pada saat ini kematian ibu hamil dan ibu bersalin masih tinggi khususnya di negara-negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25 -50% kematian wanita subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Data yang riil tentang AKI di dunia masih sangat sulit diperoleh namun, WHO (World Health Organitation) memperkirakan lebih dan 585.000 ibu pertahunnya rneninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Di Asia Selatan wanita kemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan dan persalinan (Saifuddin, 2002).
Di Indonesia berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2003 angka kematian ibu (AKI) berkisar 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia. Penyebab kematian ibu 80% karena perdarahan, infeksi 30,5%, partus lama dan lain-lain 17,5% (http://www.depkes.go.id, diakses 15 April 2009).
Data yang diperoleh dari Profil Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, angka kematian ibu (AKI) tahun 2003 sebesar 130 per 100.000 kelahiran hidup dan mengalami penurunan pada tahun 2004 yaitu sebesar 110 per 100.000 kelahiran hidup yang disebabkan oleh perdarahan 60 orang (54,5%), infeksi 7 orang (6,4%), toksenia 13 orang (11,82%) dan lain-lain 30 orang (27,3%) (Profil Kesehatan, 2004). Pada tahun 2005, angka kematian berkisar 291/100.000 kelahiran hidup. Dengan beberapa faktor penyebabnya yaitu perdarahan 40-50%, preeklampsia dan eklampsia 20-30%, infeksi jalan lahir 20-30% (http://www.hidayatullah.com/indeks, diakses tanggal 17 April 2009).
Angka kematian ibu telah mengalami penurunan, hal ini terlihat dari 425 per 100.000 kelahiran hidup (1992) menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2003 dan menurun lagi menjadi 248 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Sedangkan laporan dari Subdin Kesga Dinkes provinsi Sulsel pada tahun 2008 menunjukkan kematian bayi sebesar 97, 12 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematiannya rata-rata disebkan oleh sebab langsung seperti perdarahan, eklamsi, infeksi, dan lainnya. (http://datinkessulsel.wordpress.com, diakses tanggal 31 juli 2009).
Hasil Survei awal diperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Umum Daya Makassar, jumlah ibu yang melahirkan periode 2008 sebanyak 64 orang yang mengalami ruptura perineum.
Ada beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan ruptura perineum dalam persalinan diantara posisi tubuh, paritas, janin besar, ekstraksi cunam/forcep dan cara meneran (Mochtar, 1998).
Untuk mencegah timbulnya infeksi atau komplikasi lainnya pada masa nifas utamanya dengan ruptura pada perineum dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan antara lain perawatan perineum secara intensif (Saifuddin, 2000).
Berdasarkan masalah-masalah yang dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Gambaran Kejadian Ruptura Perineum yang selalu meningkat setiap tahunnya termasuk di Rumah Sakit Umum Daya Makassar 2008.

SelengkapnyaGambaran Kejadian Ruptura Perineum yang selalu meningkat setiap tahunnya termasuk di Rumah Sakit Umum Daya Makassar 2008 (A-0078)

Gambaran Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi (A-0077)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1 Latar Belakang
Pembangunan nasional jangka panjang menitikberatkan pada kualitas hidup sumber daya manusia yang prima. Untuk itu kita bertumpu pada generasi muda yang memerlukan asuhan dan perlindungan terhadap penyakit yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembangnya menuju dewasa yang berkualitas tinggi guna meneruskan pembangunan nasional jangka panjang. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi semua orang, agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Ranuh, I.G.N. 2008).
Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah di lemahkan atau di matikan ke dalam tubuh. Dengan memasukkan kuman atau bibit penyakit tersebut diharapkan lebih dapat menghasilkan zat anti yang ada pada saatnya nanti di gunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh (Markum A,H. 2000).
Sistem kesehatan nasional imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita (Ranuh, I.G.N. 2008).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yaitu 34 bayi per 1000 kelahiran. Bila di rincikan 157.000 bayi meninggal per tahun atau 430 bayi per hari. Sedangkan Angka Kematian Balita (AKABA) yaitu 46 dari 1000 balita meninggal setiap tahunnya, Bila dirincikan,kematian balita ini mencapai 206.580 balita per tahun, dan 569 balita per hari (Syafei C. 2008).
Beberapa penyebab kematian bayi dikarenakan Berat Badan Lahir Rendah, asfiksia, tetanus, infeksi. Dalam Millenium Developmen Goals (MDGs), Indonesia menargetkan pada tahun 2015 Angka Kematian Bayi (AKB) menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran. Sedangkan Angka Kematian Balita (AKABA) di targetkan menjadi 23 per 1000 balita. Untuk itu maka perlu adanya Program Kesehatan Anak yang mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak (Syafei C. 2008).

SelengkapnyaGambaran Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi (A-0077)

Gambaran Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Salewangang Maros (A-0076)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu hal yang fisiologi walaupun kehamilan adalah proses fisiologi namun apabila tidak di tangani secara akurat dan benar, keadaan fisiologi akan menjadi patologi dan mengancam keselamatan ibu hamil sehingga dapat mengakibatkan tingginya mortalitas dan morbiditas terhadap ibu dan janinnya. (Bobak, 2004).
Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun diperkirakan karena sekitar 127.000 wanita (25%) karena sepsis, 65.000 wanita (12%) hypertensi kehamilan, 38.000 wanita (8%) karena persalinan macet dan hampir 62.000 wanita (18%) karena abortus. Sekitar 20% yang meninggal karena penyakit yang diperberat dengan kehamilan seperti anemia, defisiensi zat besi, hepatitis, TBC, atau penyakit jantung. Penyebab kematian maternal adalah perdarahan 40–60%, infeksi 20–30% dan pre-eklampsia–eklampsia 20 -30 %, sisanya sekitar 5% di sebabkan oleh penyakit lain yang memburuk saat kehamilanataupersalinan.(http://www.Kabarindonesia.Com/online/ diakses tanggal 11/6/2009).
Angka kematian ibu ( AKI ) di indonesia tertinggi di ASEAN sebesar 307 / 100.000 kelahiran hidup ( survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002, 2003 ) artinya lebih dari 18.000 ibu tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Dan penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan ( 28 %), Eklampsia ( 24 %) dan infeksi (11%), abortus ( 5%) atau partus macet ( 5%) (http://www.depkes.go.id.Online di akses tanggal 11/6/2009).
Berdasarkan data dari profil dinas kesehatan provinsi sulawesi selatan jumlah kematian ibu maternal yang di laporkan pada tahun 2006 di sulawesi selatan sebesar 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan tahun 2007 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup yang penyebabnya adalah perdarahan 77 orang ( 50,33%), infeksi 6 orang (3,92%), pre-eklampsia 40 orang ( 26,14%), dan lain-lainnya sebanyak 30 orang (19,61%). (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2008)
Data yang di peroleh dari rekam medik Rumah Sakit Salewangang Maros terdapat 2.741 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada periode januari 2007 – desember 2008, dari jumlah ibu hamil tersebut terdapat 42 ibu hamil yang menderita pre- eklampsia.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan preeklampsia adalah umur yang terlalu muda atau terlalu tua pada saat melahirkan, paritas yang tinggi, pendidikan ibu, perawatan antenatal, jarak antara kehamilan yang kurang dari 2 tahun serta status gizi ibu yang belum memadai. (Widianingrum, 1999). Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya pemeriksaan antenatal care yang lebih intensif guna mengetahui dan mencegah sedini mungkin faktor resiko yang dapat membahayakan kehamilan.
Berdasarkan latar belakang tingginya kejadian preeklampsia dan banyaknya faktor resiko maka penulis tertarik untuk mengambil judul “gambaran kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Rumah Sakit Salewangang Maros”.
SelengkapnyaGambaran Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit Salewangang Maros (A-0076)

Gambaran Faktor Resiko Kejadian Persalinan Caesarea (A-0075)

Diposkan oleh Gunandar Azikin

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Persalinan caesarea adalah melahirkan janin melalui irisan pada dinding perut ( laparatomi ) dan dinding uterus ( histerotomi ). Persalinan caesarea merupakan operasi besar yang hanya menjadi pilihan ketika keselamatan ibu dan atau anak terancam. Dan operasi ini dilakukan ketika proses persalinan normal melalui bulan lahir tidak memungkinkan karena komplikasi medis.
Sectio caesarea adalah merupakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim ( Winkjosastro, 2005 ).
Persalinan caesarea tidak ditujukan hanya demi kenyamanan dan kepentingan dokter atau orang tua atau alasan lain yang bersifat sosial. Operasi caesarea harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu yang melahirkan, maka logikanya kemajuan teknologi kedokteran akan membawa perubahan pada jumlah antara Angka Kematian Ibu ( AKI ) yang melahirkan dan angka ibu yang harus menjalani operasi caesarea, yaitu semakin kecil dari tahun ke tahun ( Hartanto, 2004 ).
Saat ini operasi caesarea menjadi trend karena berbagai alasan. Dalam 20 tahun terakhir, angka operasi caesarea meningkat pesat. Operasi ini kadang – kadang terlalu sering dilakukan sehingga para kritikus menyebutkan sebagai panacea ( obat mujarab ) praktek kebidanan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih termasuk dibidang kesehatan, semakin baik obat – obatan terutama antibiotik, dan tingginya tuntutan terhadap dokter untuk membantu persalinan ibu yang mengalami komplikasi, yakni dengan operasi caesarea ( Adji, 2003 ).
Beberapa faktor yang menjadi penyebab pelaksanaan persalinan Caesarea seperti faktor karena indikasi medik atau penyulit persalinan, faktor dari ibu antara lain umur ibu, jumlah anak yang dilahirkan atau paritas,dan penyulit persalinan ( Mochtar,1995 )
Pertengahan tahun 1980 an, frekuensi persalinan caesarea meningkat dari bawah 5% menjadi lebih dari 155 ( Mc Donal, 2006 ). Operasi Caesarea di dunia yang paling rendah terdapat di negara-negara kawasan Eropa Timur seperti Hongaria, berkisar 20 %. Sedangkan angka tertinggi terdapat di Brazil, yakni 50 % dari angka kelahiran disuatu Rumah Sakit ( Obsfetri fisiologi, 2005 ).
Tahun 2005, insiden persalinan Caesarea menjadi berkurang di Amerika Serikat menjadi 20 %. Sedangkan di Indonesia angka ini justru semakin meningkat. Data Rumah Sakit swasta dari kota-kota besar di Indonesia menunjukkan kekerapannya berkisar 30 sampai 80 % ( Hudaya, 2005 ).
Pada tahun 2004 di Indonesia persalinan Caesarea ditemukan sebesar 23,4 % dari semua persalinan ( Depkes,2004 ). Di Bandung ditemukan rata-rata 9,7 % pada tahun 1990-1999 di Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Angka persalinan Caesarea di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini seperti yang terjadi di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar yakni dari 23,9 % pada tahun 2000 menjadi 30,1 % pada tahun 2001 ( di Rumah Sakit Fatima,2002 ).
Di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep mengalami peningkatan dalam menangani persalinan Caesarea dari tahun ketahun yaitu pada tahun 2006, sebanyak 136 kasus dan tahun 2007 sebanyak 140 kasus dan tahun 2008 sebanyak 150 kasus.
Semua Rumah Sakit baik negeri atau swasta telah dihimbau untuk menekan persentase untuk persalinan dengan operasi Caesarea hingga dibawah 20 %. Dirjen Pelayanan Medik Depkes menyebarkan surat edaran ke Rumah sakit bahwa persalinan dengan operasi harus ditekan dibawah 205 karena bagaimanapun juga setiap tindakan operasi selalu memberikan efek samping pada ibu dan bayi (Rustam.M,2006 ).
Mengingat besarnya resiko dari persalinan Caesarea dan semakin tingginya persalinan Caesar yang tidak membutuhkan alasan medis, maka perlu dilakukan upaya penurunan angka persalinan Caesarea. Untuk itu perlu dikaji beberapa faktor resiko kejadian persalinan Caesarea agar terhindar dari persalinan Caesarea yang tidak perlu yang hanya membawa kerugian, baik secara medik maupun sosial ekonomi dan budaya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang persalinan Sectio Caesarea.

SelengkapnyaGambaran Faktor Resiko Kejadian Persalinan Caesarea (A-0075)